Reportase Ekskursi Area Tambang PT. ANTAM Tbk Pongkor, Bogor, Jawa Barat

REPORTASE EKSKURSI AREA TAMBANG PT. ANTAM Tbk

PONGKOR , BOGOR , JAWA BARAT.

18-19 SEPTEMBER 2013

 

STUDENT CHAPTER MASYARAKAT GEOLOGI EKONOMI INDONESIA

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

Alhamdulillah.....Program kerja SC MGEI UNSOED yang terealisasi kali ini adalah ekskursi ke salah satu area pertambangan emas milik PT. ANTAM (Persero) Tbk. yang terletak di Gunung Pongkor pada tanggal 18-19 September 2013. Peserta ekskursi ini merupakan pengurus SC MGEI UNSOED berjumlah 21 orang dengan didampingi oleh pembina tercinta, Bapak Siswandi, M.T., dan senior kami yang telah bekerja di PT ANTAM, Kak Rifha Fatiha Rotariya, S.T.

Gbr 1 unsoed

Team PT ANTAM Pongkor, sudah siap menyambut kami dengan keramahannya. Kami sebagai peserta ekskursi memulai perjalanan dari kampus Teknik UNSOED pada Rabu, 18 September 2013 pukul 07.00 WIB dengan menggunakan bus fasilitas kampus, menuju Bogor. Setelah melalui jalan berliku, mampir beberapa rest area, akhirnya kami sampai di kota Bogor. Namun, ternyata Gunung Pongkor itu masih 2 jam perjalanan lagi dari kota bogor itu sendiri. Kami mulai memasuki jalanan terjal dan cukup menanjak di sepanjang jalan menuju Gunung Pongkor hingga akhirnya menemui tugu bertuliskan PT ANTAM, yang menandakan perjalanan masih 1 jam lagi tetapi dengan kondisi jalan yang sudah rata. Akhirnya kami sampai juga di PT ANTAM Pongkor pukul 20.00 WIB.

Kami diantar menggunakan beberapa mobil menuju Camp Sorongan. Dan di sana Pak Elwin Elbur, yang merupakan Leader Exploration Sambil bercengkrama, kami disuguhi makan malam yang nikmat

 Setelah itu, kami diwajibkan untuk mengikuti safety induction bagi visitor oleh petugas K3 PT ANTAM Pongkor. Kami pun mengikuti presentasi dengan semangat.

Waktu sudah menunjukkan lebih dari pukul 09.00 WIB ketika itu. Namun, kami masih bersemangat untuk menegikuti kuliah singkat mengenai pengenalan eksplorasi dan pertambangan oleh Pak Elwin Elbur.

Pak Elwin dengan pembawaannya yang santai dan menarik , mampu menghipnotis kami sehingga presentasi singkat yang beliau sampaikan baru berakhir pukul 00.00 WIB.

 Di sana difokuskan kepada masalah eksplorasi, berikut beberapa bagian yang disampaikan dalam presentasi oleh Pak Elwin. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam eksplorasi secara garis besar dapat dibagi menjadi 6 bagian, yaitu :

 1. Lokasi

Dengan melakukan pengamatan secara regional hingga ke skala yang lebih detail lagi, yaitu lokal, dalam hal ini, mapping dilakukan untuk mendapaktkan data-data yang berkaitan dengan lokasi yang berskala lokal.

 2. Bentuk

 Terbagi menjadi dua, yaitu regular dan irregular.

 3. Dimensi

Terkait dengan seberapa besar cadangan yang di temukan, apakah bersifat ekonomis atau tidak jika dilakukan pengeksploitasian.

4. Sebaran

Dibagi menjadi dua istilah, yaitu menghampar dan menjalur. Mengetahui sebaran dalam kegiatan eksplorasi sangat penting, yaitu untuk menentukan langkah eksplorasi selanjutnya, lalu untuk mengetahui tipe alterasi yang berkembang serta kemenerusannya.

5. Kualitas

Mengetahui kualitas dari barang yang akan di tambang.

6. Sumber daya terukur

Meliputi perhitungan antara jumlah cadangan, sehingga apabila dieksploitasi dapat bersifat ekonomis.

 Beberapa materi tambahan disampaikan ketika presentasi sedang berlangsung, seperti mengenai karakteristik dari urat-urat yang ada di pongkor yang rata-rata ketebalannya di atas 4 m, ada yang 20 m, dan ada juga yang mencapai 50 m serta vein-vein tersebut memotong di semua lapisan batuan, sementara untuk kandungan base metalnya sendiri, di pongkor terhitung tinggi, hingga mencapai ratusan ppm. Emas di pongkor sendiri tumbuh secara intergrowth pada kalkopirit, kalkopirit itu sendiri menunjukan bahwa zona tempat ditemukannya berada pada zona bonanza, yang berarti jauh dari permukaan, pada kondisi seperti inilah kadar Au nya bersifat tinggi. Secara umum ada beberapa penciri lain yang menunjukan bahwa kadar emas dapat bersifat tinggi, yaitu dengan dicirikan adanya salah satu dari grey quartz, kuarsa adularia, kuarsa klorit, serta kalkopirit, namun untuk di Pongkor sendiri, apabila sudah terdapat mineral klorit, maka sudah dapat dipastikan kadar emasnya adalah 0, sehingga tingkat profilit akan banyak ditemukan pada sekitar ujung-ujung urat.namun sekali lagi perlu diperhatikan, bahwa tempat yang satu dengan tempat yang lainnya memiliki perbedaan karakteristik, jadi ciri di atas merupakan ciri yang ada di Pongkor. Di pongkor terdapat 3 sumber magma, dimana ketiga tiganya bersifat andesitic-basaltic, host rocknya berumur miosen awal dan umur mineralisasinya berkisar antara pliosen – pleistosen.

 

Kegiatan di lapangan

Sebelum turun kelapangan melakukan pengamatan, kembali hal yang sangat penting dan tidak boleh terlewatkan selain makan pagi adalah Safety Talk. Setelah dilakukannya Safety Talk kami diajak untuk melakukan Pengamatan sampling core di gudang penyimpanan core.

Dari kegiatan pengamatan ini, kita dapat mengetahui litologi batuan paling tidak dari segi ukuran butirannya mulai dari bagian paling atas hingga paling bawah dari satu sumur log yang kita amati di mana hampir seluruhnya merupakan produk dari gunung api, yaitu :

 

Memiliki warna abu-abu terang serta ukuran butir hampir didominasi dengan ukuran tuff.

Memiliki warna abu-abu, dan mulai didominasi oleh butir-butir berukuran lapilli, pada log ini juga ditemukan adanya urat kuarsa, ada yang bersifat non karbonat, dan ada juga yang bersifat karbonatan.

 Memiliki warna abu-abu, dan menunjukan adanya fragmen-fragmen breksi pada log tersebut.

Dari log-log yang ada, dapat juga diketahui adanya struktur yang bekerja pada tubuh batuan tersebut, hal ini terlihat dari log-log berikut yang menunjukan adanya struktur sesar yang bekerja :

Pada gambar di atas menunjukan bahwa batuan tersebut berada tidak jauh dari bidang sesar, sehinnga pada spot tersebut sifatnya rapuh dan memilikit tekstur yang berbeda dari batuan massive yang berada di atas dan di bawahnya yang tidak terkena dampak sesar yang sifatnya masih massive.

Gambar di atas juga menunjukan bagian batuan yang terkena sesar(yang ada komparasinya), pada log batuan tersebut bagian atas dan bawahnya bersifat massive, sementara bagian yang terkena sesar(yang berwarna gelap) memiliki sifat yang berbeda, yaitu bersifat clay, dan diinterpretasi bahwa pada bagian tersebut tepat pada bidang sesar, sehingga akibat adanya gerusan, dan panas yang timbul, dapat merubah batuannya sehingga memiliki tekstur clay.

b. Orientasi medan

Berdasarkan morfologi yang terlihat pada saat orientasi lapangan, daerah pongkor di kelilingi oleh bukit bukit, di mana kelurusan kelurusan bukit tersebut terlihat seperti bibir kawah, selain itu juga, bagian tengahnya berbentuk cekung, sehingga dapat dikatakan bahwa daerah pongkor merupakan kawah dari gunung api tua. Selain itu juga terdapat struktur yang bekerja yang menyebabkan kenampakan morfologi seperti sekarang, yaitu adanya struktur sesar graben, yang juga menyebabkan terdapatnya cekungan yang di kelilingi oleh tinggian-tinggian.

 b. Kegiatan lapangan

Dalam kegiatan lapangan sebelum mulai membahas singkapan, terlebih dahulu kita diberi tips mengenai pengambilan data lapangan, mulai dari sketsa, pengambilan foto sampai penomoran sampling, lebih rincinya seperti berikut :

 1) Sketsa.

Sketsa yang dibuat harus menunjukan kedudukan singkapan terhadap kedudukannya di sekitar serta menunjukan kedudukan kita sebagai pengamat, sehingga dapat ditarik garis lurus dari sudut pengamat agar dapat dibuat penampang.

 

2) deskripsi

 Deskripsi yang dilakukan dilapangan adalah mendeskripisikan apa yang terlihat dari sampel yang kita ambil, dapat berupa warna, ukuran butir, tekstur yang terlihat, serta keberadaan mineral yang terlihat.

 3) Dalam pengambilan foto, foto yang diperlukan adalah

 a) foto singkapan tampak keseluruhan.

 b) foto spot dari singkapan yang diambil sampelnya disertai komparasi.

 c) foto makro dari sampel yang diambil.

 4) Pengkodean sampel, kode yang diberikan harus sama antara :

 a) sampel yang di ambil, selain kode di tulisan pada plastik sampel, kode juga di tulis pada pita lapangan yang nantinya di masukan ke dalam plastik sampel itu sendiri.

 b) kode pada foto

 c) spot dari singkapan yang di ambil fotonya juga harus diberikan kode yang sama seperti sampelnya, jadi sebelum di foto, berikan pita yang sudah diberikan kode yang sama, lalu di foto.

 

 Setelah pemberian tips di atas, pembahasan mengenai singkapan yang pertama dimulai, singkapan yang dijumpai merupakan tubuh batuan yang sudah teralterasi, hal tersebut terlihat warnanya yaitu abu abu terang, dan ukuran butirnya yang sudah berubah menjadi clay, lalu dari pengamatan terlihat terdapat mineral pyrite berupa titik kuning mengkilap yang menyebar pada sampel, lalu mineral kaolinit yang berwarna kuning serta illit yang berwarna putih, sampel juga sudah mengalami oksidasi, diperlihatakan dengan warna kuning karat. Dari ciri-ciri diatas mulai dari warna, ukuran butir, serta mineral yang terlihat, disimpulkan bahwa batuan tersebut merupakan alterasi tipe argilik. Namun apabila secara kasatmata, kenampakan argilik dengan tuff yang basah (terletak pada air mengalir) akan kelihatan mirip karena memiliki warna abu-abu terang, namun tetep akan terdapat perbedaan apabila diamati lebih lanjut, terutama apabila disentuh, akan terasa mana yang merupakan produk dari alterasi dengan produk dari endapan gunung api (tuff).

Diskusi dilanjutkan dalam perjalanan menuju tunnel, dalam perjalanan, diskusi lebih banyak membahas pada tekstur urat, terutama yang ditemukan pada bongkah-bongkah yang terletak dipinggir jalan 

1. Sampel pertama yang di ambil seperti gambar di bawah :

Pada sampel di atas, tekstur urat yang dapat di amati adalah coloform, pada tekstur yang seperti ini biasanya Au banyak terjebak, sehingga tekstur coloform bisa menjadi salah satu penciri tingkat kadar emas yang tinggi, tekstur ini terbentuk karena pada saat pembentukan, fluida silika memiliki viskositas yang cukup tinggi, sehingga ketika fluida tersebut masuk ke dalam rekahan-rekahan batuan, terjadi saling memampatkan, sehingga terbentuk tekstur seperti gelombang pada saat pembekuan, tekstur tersebutlah yang disebut coloform. Selain urat kuarsa, terdapat juga kalsedon yang berwarna putih susu atau warnanya lebih dull, yang merupakan hasil dari silisifikasi dari fluida silika dan merupakan salah satu dari tekstur urat kuarsa.

Pada sampel ini juga terdapat tekstur sachroidal, seperti gambar di bawah ini :

 

                2. Lalu sampel selanjutnya yang di ambil adalah seperti gambar di bawah :

 Pada sampel tersebut, terdapat jalur sulfida yang berwarna hitam memanjang, adanya sulfida seperti itu juga dapat mengindikasikan tingginya kadar emas pada urat tersebut. Di sample tersebut juga terdapat rodolit, dicirikan dengan warnanya yang pink/krem, dikatakan rodoloit dikarenakan tidak bersifat karbonatan, namun apabila bersifat karbonatan, maka disebut radokrosit. Lalu pada sampel tersebut juga terdapat mangan, dengan cirinya yang berwarna hitam. Selain rodolit/rodokrosit, terdapat juga adularia yang warnanya juga pink/krem/hingga kekuningan.

 Pembagian jenis kekar juga pentinga dalam hal eksplorasi, pembagian antara shear dan tension digunakan untuk menentukan arah persebaran uratnya, jadi setelah dibagi berdasarkan jenis kekarnya, maka pengukurannya pun dipisahkan, sehingga dapat diketahui arah penyebaran kekar/uratnya ke arah mana. Dari sampel-sampel di atas, sudah disebutkan tekstur atau ciri urat yang memiliki potensi kadar emasnya tinggi yaitu memiliki tekstur koloform, dan atau terdapat jalur sulfida pada uratnya, lalu ada satu lagi pencirinya yaitu ketika fragmen breksi terselimuti oleh silika, maka terdapat kemungkinan pada silika tersebut terdapat emas, hal ini disebut juga sebagai coating.

 Salah satu kegiatan lapangan yang sangat menarik bagi kami kali ini adalah masuk ke dalam salah satu Tunnel milik PT.ANTAM. Sebelum masuk kedalam Tunnel kami kembali harus mengikuti Safety Induction oleh petugas.

Setelah selesai mengikuti Safety Induction kami diberikan Alat Pelindung Diri ( APD ) yang meliputi Helm, Rompi, Masker serta Boot.

Safety Talk sebelum masuk Tunnel

Pengamatan Vein dalam tunnel

3. sampel yang di peroleh dari tunnel

Sampel di peroleh dari ujung tunnel yang merupakan ore body nya, pada bagian ini, uratnya diperkirakan setebal 4m. Kamis, 19 September 2013 pukul 15.00 WIB aktivitas lapangan telah selesai dilaksanakan. Kamipun melaksanakan santap siang bersama di salah satu kantin. Setelah santap siang kami berkemas untuk segera pulang ke Purbalingga. Tidak lupa sebelum kami pulang, sejenak diskusi santai sekaligus berpamitan kepada bapak Elwin.

 Ada Juga mas Tazsky yang setia mendampingi dan membimbing kami saat dilapangan.

Kami segenap Pengurus SC MGEI UNSOED sekaligus peserta ekskursi ke Pongkor ini mengucapkan banyak terimakasih kepada pihak PT. ANTAM yang telah berkenan menerima kami melakukan pengamatan langsung di area tambang Pongkor dengan segala fasilitasnya.

Banyak Terimakasih juga kami sampaikan kepada orang tua organisasi kami yaitu MGEI ( Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia ) yang telah memberikan dukungan baik materi non materi sehingga kami dapat melaksanakan acara Ekskursi ini dengan lancar.

Tidak lupa kami sangat berterimakasih kepada pembina tercinta kami yakni Bapak Siswandi,M.T., yang telah memberikan waktunya kepada kami untuk membimbing dan membina kami.

Dari hati yang paling dalam kami merasa sangat senang dan sangat Antusias dapat melakukan ekskursi di area tambang PT. ANTAM di Pongkor, banyak pelajaran dunia indutri yang dapat kami ambil. Banyak pengalaman baru yang berharga yang kami dapat. Sungguh sangat memotivasi kami untuk semakin menjadi maju. Semoga ilmu yang kami dapat ini dapat bermanfaat untuk kedepannya.

Sekian tentang reportase ekskursi kali ini, mohon maaf apabila ada salah kata dan mohon maaf apabila ada prilaku kami pada saat dilapangan yang kurang berkenan dan kepada ALLAH SWT kami mohon ampun.

 

 Purbalingga, 21 September 2013